Archive for October, 2005

HATI SELUAS SAMUDRA

Thursday, October 13th, 2005

Saya mempunyai kisah menarik yang saya kutip dari Ir.Andi Muzaki, SH, MT tentang bagaimana kita menjalani kehidupan yang berat ini agar terasa ringan dan membuat kita bahagia. Semoga bermanfaat. Sampaikanlah kepada teman-teman kita yang lain, yang saat ini mungkin sedang sedih. Bantulah sahabat-sahabat agar lebih mudah dan ringan menjalani hidup ini. We love you, Pal.

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya." ujar Pak Tua itu.

"Pahit. Pahit sekali dan asin." jawab sang tamu, sambil meludah kesamping

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya itu, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka di tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah."

Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?"

"Segar." sahut tamunya.

"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya Pak Tua lagi.
"Tidak." jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama."

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalam dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti GELAS. Buatlah laksana TELAGA yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan keBAHAGIAan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam" untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Semoga kita bersama-sama untuk meluaskan hati kita, kalo perlu seluas samudra agar hidup terasa lebih indah.

PENGALAMAN

Wednesday, October 5th, 2005

Ada seorang teman bertanya pada ku. "Kenapa jaman sekarang, kalo melamar pekerjaan begitu sulit karena selalu diminta (requirement) memiliki pengalaman kerja sekian tahun." Jujur, pertanyaan seperti itu sering kali ditanya teman-teman ku maupun saudara-saudara ku. Kita selalu beranggapan, kalau selalu dimintakan pengalaman, gimana dong dengan orang yang pernah bekerja. Kan berarti mematikan kesempatan mereka untuk bekerja.

Disini, aku bukan ingin berpintar-pintar atau memberikan solusi. Aku hanya coba memberikan ilustrasi untuk mensiasati kekurangan diri kita (yaitu pengalaman bekerja) agar dapat memenuhi kriteria yang dimintakan perusahaan.

  1. Sebaiknya, waktu kita sekolah maupun kuliah, sebisa mungkin kita part time disuatu bidang usaha. Bisa usaha orang tua, saudara, teman, tetangga atau apa saja. Berdasarkan pengalaman ku, waktu sekolah dan kuliah, aku bekerja paruh waktu di sebuah media masa sebagai montage dan pencatat keuangan, perusahaan Malaysia Fortune, bendahara atau sekretaris di OSIS atau Senat, ikut beberapa proyek Event Organizer dan sebagainya. Sehingga pada waktu melamar, pengalaman tersebut (mudah-mudahan) dapat dipertimbangkan oleh perusahaan tempat kita melamar.
  2. Jika kita tidak banyak aktivitas di luar sekolah atau kampus, dan baru mencari kerja setelah selesai sekolah atau kuliah. Tentu pengalaman kerja kita adalah nihil alias ga ada sama sekali. Untuk mensiasatinya, yang pertama-tama, jangan buru2 mengirimkan banyak aplikasi ke berbagai perusahaan. Ada baiknya waktu luang kita manfaatkan untuk cari kerja apa saja untuk masa 1 tahun. Apakah itu menjadi petugas penagihan atau penerima pembayaran PLN, Telkom atau apalah. Ini bisa minta bantuan dengan Karang Taruna disekitar kita. Atau menyambi sebagai penagih atau sales door to door. Nah setelah 1 tahun kita mencoba kita sudah mempunyai 1 point tambahan untuk melamar kerja. Insya Allah…tambahan CV kita tersebut dapat memberikan nilai tambah. Soal diterima atau tidaknya tentu tergantung faktor lucky. Yang penting, kita sudah memenuhi persyaratan dulu untuk di test.

Nah, setelah di test, pada saat wawancara (mudah2an bisa sampai tahap ini) kita sekuat tenaga untuk tampil all out untuk menyakinkan penerima kerja bahwa pengalaman yang kita peroleh bisa mendukung cara kerja kita diperusahaan tersebut apabila kita diterima. Tentunya jangan lupa berdoa. Ga usah terlalu Pede. Tapi juga ga boleh rendah diri. Yang pas itu asik kok.

Jadi…pengalaman itu bukan segala2nya. Itu hanya semacam anak kunci. Persis dengan gelar sarjana. Saya jadi ingat kata2 Tantri Abeng, bahwa gelar itu hanya anak kunci untuk masuk dalam ruangan. Ketika kita di dalam, maka selanjutnya terserah kita dan anak kunci sudah tidak kita gunakan lagi. Geto deh kira-kira.